Setelah pengakuan terlarang yang emosional itu ternyata hanyalah jeda singkat, sebuah ketenangan semu sebelum badai susulan yang jauh lebih liar kembali mengamuk. Alaric Valerius, pria yang seharusnya merasa terkuras habis energinya setelah ledakan pertama yang begitu masif, justru mendapati sistem sarafnya bereaksi dengan cara yang melampaui batas kewajaran biologis. Hanya butuh waktu singkat—mungkin hanya beberapa menit saat napas mereka baru saja mulai stabil dan peluh di kulit mereka mulai mendingin—bagi Alaric untuk merasakan percikan api itu kembali menyulut aliran darahnya. Ia menatap Seraphina yang masih terbaring lemah dalam dekapannya, melihat bagaimana kulit porselen gadis itu masih merona hebat dan bibirnya yang sedikit terbuka mengeluarkan embusan napas yang hangat dan harum

