Gemerlap lampu Jakarta yang biasanya tampak seperti hamparan berlian dari lantai tiga puluh lima apartemen mewah di kawasan Sudirman, malam ini terasa seperti ejekan yang menyilaukan bagi Bianca. Di dalam ruangan luas yang dulunya merupakan simbol kejayaan dan kemenangannya atas Seraphina, suasana kini terasa mencekam dan hampa. Tidak ada lagi aroma lili segar yang setiap pagi dikirim oleh floris langganan, tidak ada lagi deretan pelayan yang siap sedia menunggu perintahnya. Yang tersisa hanyalah kesunyian yang menekan, bercampur dengan aroma debu dari karpet Persia yang mulai menggulung di sudut-sudut ruangan. Bianca duduk meringkuk di atas sofa beludru merah yang merupakan satu-satunya furnitur besar yang tersisa. Di sekelilingnya, ruangan itu tampak seperti medan perang yang telah dija

