Keheningan yang merayap di flat Richmond malam ini terasa lebih pekat, seolah-olah setiap sudut ruangan sedang memberikan penghormatan pada momen transisi yang sakral. Di luar jendela, salju London tidak lagi turun dengan malu-malu; butiran putih itu kini menghantam kaca dengan ritme yang konstan, menciptakan simfoni dingin yang membekukan dunia luar. Namun, di dalam kamar yang diterangi hanya oleh lampu tidur berwarna amber pucat, hangatnya napas kehidupan baru menjadi satu-satunya kompas bagi Seraphina Dirgantara. Sera berdiri mematung di samping boks bayi yang terbuat dari kayu pinus halus, tangannya masih merasakan sisa kehangatan dari tubuh kecil yang baru saja ia tidurkan. Kendrick, pangeran kecilnya, telah terlelap dengan kepalan tangan mungil di samping pipinya, menunjukkan ketenan

