Dering ponsel di atas meja kerja Alaric siang itu terasa seperti dentuman godam yang menghantam sarafnya yang sudah lelah. Nama Saskia berkedip di layar, membawa kembali potongan memori semalam yang ingin ia kubur dalam-dalam. Alaric masih ingat betul bagaimana ia meninggalkan apartemen wanita itu dengan terburu-buru, mengenakan kemejanya di bawah cahaya lampu remang dengan napas yang masih memburu—bukan karena gairah, melainkan karena rasa sesak yang mendadak menyerang ketika bayangan Seraphina menyusup di antara sentuhan Saskia. Ia telah menjadikan Saskia pelarian, lalu membuangnya begitu saja setelah mencapai pelepasan. Sebuah tindakan yang sangat tidak mencerminkan kehormatannya sebagai seorang Valerius. Maka, ketika suara rendah Saskia di seberang telepon mengajaknya untuk bertemu

