Lantai marmer yang dingin di apartemen mewah milik Alaric Valerius seolah tidak mampu meredam bara api yang masih menyelimuti jiwanya setelah kejadian di ruang ganti ballroom malam itu. Alaric berdiri di depan dinding kaca raksasa yang menampakkan kerlip lampu kota Jakarta yang tak pernah tidur, namun matanya kosong. Di tangan kanannya, sebuah gelas kristal berisi wiski murni tanpa es bergetar halus, seiring dengan detak jantungnya yang masih sering berkhianat setiap kali aroma vanilla terlintas dalam ingatannya. Ia merasa dirinya sudah gila. Benar-benar gila. Seorang pria yang selama puluhan tahun memuja kontrol, integritas, dan martabat, kini hanyalah rongsokan emosi yang dikendalikan oleh rintihan seorang gadis yang seharusnya ia lindungi. Ia harus berhenti. Ia harus mencari penawar

