Konfrontasi Primal.

1436 Kata

​Suara ban Mercedes-Benz yang berdecit keras di atas aspal lobi apartemen mewah itu terdengar seperti jeritan maut yang membelah keheningan malam Senopati. Alaric Valerius tidak menunggu mesin mobilnya mati sepenuhnya sebelum ia menendang pintu kemudi hingga terbuka lebar. Ia keluar dari kabin yang pengap oleh aroma tembakau dan sisa-sisa amarah yang membusuk, berdiri tegak di bawah siraman lampu merkuri yang dingin dengan aura yang begitu pekat hingga udara di sekitarnya seolah-olah membeku. Jas abu-abu arangnya sudah tidak lagi rapi; kancing kerah kemejanya terlepas, dasinya menggantung miring, dan rambutnya yang biasanya tertata klimis kini berantakan tertiup angin malam yang tajam. Namun, bukan penampilannya yang membuat petugas keamanan di lobi terpaku di tempat; melainkan tatapannya.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN