Raungan mesin Mercedes-Benz S-Class itu tidak lagi terdengar seperti mesin mobil mewah yang halus, melainkan seperti geraman binatang buas yang sedang sekarat dan menuntut darah. Ban mobil itu menjerit, bergesekan dengan aspal rubanah yang kasar saat Alaric Valerius memacu kendaraannya keluar dari gedung pencakar langit SCBD tanpa memedulikan petugas keamanan yang melompat menghindar. Di dalam kabin, suasana terasa seperti di dalam ruang vakum yang dipenuhi listrik statis. Alaric mencengkeram lingkar kemudi begitu erat hingga sarung tangan kulitnya mengeluarkan bunyi derit yang menyayat. Matanya, yang biasanya dingin dan penuh perhitungan, kini berkilat dengan kegilaan yang murni, terpaku pada jalanan di depan seolah-olah aspal itu adalah musuh yang harus ia taklukkan. Kecepatan di spee

