Udara di dalam lift mewah yang membawa Alaric Valerius turun dari lantai dua puluh dua terasa begitu tipis, seolah-olah oksigen telah habis disedot oleh ketegangan yang ia bawa dari dalam apartemen Seraphina. Alaric berdiri mematung di sudut lift, menatap pantulan dirinya sendiri di dinding cermin yang mengkilap dan dingin. Sosok yang menatapnya balik bukanlah titan industri yang ditakuti di papan atas bursa saham; sosok itu adalah seorang pria yang tampak hancur, dengan kemeja putih yang kusut, kerah yang tidak simetris karena kancing yang terlepas dalam kepanikan, dan mata yang menyimpan kilatan horor serta rasa jijik yang mendalam terhadap dirinya sendiri. Setiap kali lift itu bergerak turun melewati lantai demi lantai, perutnya terasa mual, bukan karena gerakan mekanis mesin tersebut,

