Keheningan di dalam ruang kantor pribadi Alaric Valerius terasa semakin menindas, seolah-olah setiap dinding kaca setinggi langit-langit itu mulai menyuarakan penghakiman yang tak terdengar. Alaric masih terduduk di balik meja mahoninya, namun tangannya yang biasanya stabil kini bergetar begitu hebat sehingga ia harus mengepalkannya kuat-kuat di atas tumpukan dokumen akuisisi yang mendadak terasa tidak berarti. Bau itu—aroma vanilla yang lembut, bercampur dengan aroma kulit yang baru saja melewati puncak gairah—masih menempel begitu kuat di indra penciumannya. Ia merasa aroma itu tidak hanya menempel di pakaiannya, melainkan telah meresap masuk ke dalam pori-pori kulitnya, mengalir dalam darahnya, dan menetap di pusat otaknya. Setiap kali ia menarik napas, wajah Seraphina Azkadina yang se

