Di dalam kesunyian yang mencekam di unit apartemen mewah itu, waktu seolah-olah telah berhenti berdetak, meninggalkan Alaric dalam sebuah ruang hampa di mana hukum moralitas tidak lagi memiliki pijakan yang kokoh. Udara di bawah selimut tebal itu kini telah sepenuhnya terkontaminasi oleh aroma feromon yang pekat—perpaduan antara aroma vanilla yang manis, keringat demam yang lembap, dan gairah murni yang membara hingga ke titik nadir. Alaric terengah, napasnya keluar dalam hembusan-hembusan pendek yang terasa seperti uap panas yang membakar kulit wajah Seraphina. Pada detik yang sangat krusial ini, sebuah kilatan kesadaran yang dingin sempat menyelinap masuk ke dalam benaknya, sebuah sisa-sisa terakhir dari intelek dan logikanya yang selama ini ia agung-agungkan sebagai identitas pria kela

