Kegelapan di dalam unit 2205 kini bukan lagi sekadar ketiadaan cahaya, melainkan sebuah entitas yang hidup, bernapas, dan berdenyut seirama dengan detak jantung dua raga yang sedang tenggelam dalam dosa paling indah. Di luar sana, langit Jakarta seolah-olah sedang dibelah oleh murka alam yang tak berkesudahan. Hujan turun dengan intensitas yang begitu ekstrem hingga suaranya yang menghantam kaca jendela apartemen terdengar seperti jutaan kerikil yang dilemparkan dengan tenaga penuh. Namun, di bawah selimut sutra yang kini telah menjadi saksi bisu atas runtuhnya sebuah integritas, fokus Alaric Valerius telah sepenuhnya terputus dari dunia luar. Ia tidak lagi peduli pada badai yang melumpuhkan kota; ia hanya peduli pada badai yang sedang ia ciptakan sendiri di atas ranjang ini, di mana seti

