Gemuruh guntur yang menyambar di langit Jakarta terdengar seperti suara retakan besar di dalam jiwa Alaric Valerius. Di balik jendela kaca raksasa Menara Valerius, ia masih terpaku menatap trotoar di kejauhan, tempat di mana siluet Seraphina Azkadina yang mungil perlahan-lahan menghilang ditelan kabut hujan dan keputusasaan. Tangannya yang masih memar dan berdarah di bagian buku jari menekan kaca dingin itu dengan kekuatan yang sanggup meremukkannya, seolah ia ingin menembus dimensi ruang untuk menarik Sera kembali ke pelukannya, membasuh luka yang ia ciptakan sendiri dengan tangannya yang kotor. Namun, ia tidak bisa bergerak. Ia adalah tawanan dari sandiwara yang ia bangun sebagai benteng perlindungan, sebuah benteng yang kini terasa seperti sel isolasi yang paling menyiksa di muka bumi.

