Pagi di kediaman Dirgantara datang dengan warna abu-abu yang menyesakkan, seolah matahari pun enggan menyaksikan kehancuran yang menetap di kamar Seraphina Azkadina. Di dalam ruangan yang luas itu, udara terasa mati, berat oleh aroma sisa air mata dan keputusasaan yang mengental. Sera berdiri di tengah kamarnya, menatap sekeliling dengan mata yang bengkak dan merah—mata yang tidak lagi memiliki binar kehidupan. Ia melihat ke arah meja riasnya, ke arah lemari pakaiannya yang megah, dan ke arah kotak-kotak perhiasan yang tertata rapi. Semuanya adalah jejak kaki Alaric Valerius. Semuanya adalah rantai emas yang dulu ia anggap sebagai tanda cinta, namun kini ia sadari hanyalah label harga dari sebuah transaksi nafsu yang menghinakan. Rasa mual yang hebat mendadak merayap naik ke tenggorokan

