Angin malam Jakarta bertiup kencang di ketinggian lantai lima belas, menyusup di antara pilar-pilar beton hotel mewah dan membawa aroma hujan yang belum tumpah, bercampur dengan sisa-sisa polusi yang mendingin. Namun, bagi Alaric Valerius, udara yang sanggup membekukan tulang itu sama sekali tidak cukup untuk memadamkan api neraka yang kini melahap habis kewarasannya. Ia berdiri mematung di balik tirai beludru berat berwarna merah marun yang memisahkan keriuhan ballroom yang penuh dengan kepalsuan dengan kesunyian balkon marmer yang luas. Tangannya, yang terbungkus tuksedo buatan tangan seharga ribuan dolar, mencengkeram tepian kusen pintu kaca dengan kekuatan sedemikian rupa hingga kayu mahoni itu seolah mengerang di bawah tekanan jemarinya. Matanya yang gelap, kini hanya menyisakan titi

