Malam di Jakarta selalu memiliki cara untuk menyembunyikan kebusukan di balik gemerlap lampu-lampu pencakar langit yang angkuh. Di sebuah restoran privat yang terletak di puncak salah satu hotel paling bergengsi di kawasan pusat bisnis, udara terasa begitu steril, seolah-olah emosi manusia dilarang masuk ke dalam ruangan yang didominasi oleh marmer Italia dan pencahayaan temaram yang dramatis. Alaric Valerius berdiri di balkon restoran tersebut, membiarkan angin malam yang kering menyentuh wajahnya yang setajam pahatan batu. Ia mengenakan setelan jas navy pesanan khusus yang membungkus tubuh tegapnya dengan sempurna, namun di balik kemewahan itu, ada seorang pria yang sedang mempersiapkan panggung untuk penghancuran dirinya sendiri. Alaric tahu persis apa yang ia lakukan malam ini. Ini

