Lampu meja dengan kap hijau zamrud di sudut meja jati itu menyala redup, melemparkan bayangan yang panjang dan tajam ke seluruh dinding ruang kerja yang kedap suara. Alaric Valerius tidak langsung bicara setelah ia mendudukkan Seraphina di kursi kulit kebesarannya yang tinggi. Ia justru berdiri membelakangi gadis itu, menatap rak buku yang berisi deretan literatur klasik, hukum, dan biografi tokoh-tokoh besar dunia. Di sana, di antara barisan buku itu, terselip sebuah foto kecil dalam bingkai perak—foto dirinya dan Bramantyo saat mereka merayakan keberhasilan merger pertama mereka sepuluh tahun lalu. Dalam foto itu, Bramantyo merangkul bahunya dengan tawa yang lepas, sebuah tawa yang kini terasa seperti suara lonceng kematian bagi hati nurani Alaric. Alaric menarik napas panjang, mengis

