Kabut musim dingin di Richmond perlahan mulai menipis, berganti dengan embusan angin musim semi yang membawa aroma tanah basah dan pucuk-pucuk bunga crocus yang mulai menyembul dari balik hamparan salju yang mencair. Namun, bagi Seraphina Dirgantara, perubahan musim hanyalah sebuah penanda waktu yang berjalan tanpa ampun, menyeretnya semakin jauh ke dalam pusaran takdir yang tidak bisa ia hentikan. Di dalam flat tua yang kini terasa seperti benteng perlindungan sekaligus penjara bawah tanah yang mewah, Sera berdiri di depan cermin lemari jati besar di kamarnya. Jari-jemarinya yang pucat dan gemetar perlahan menyingkap kemeja flanel berukuran besar yang selama ini menjadi tamengnya dari dunia luar. Ia tertegun. Di sana, di balik kain katun yang kasar, garis tubuhnya telah berubah secara per

