Keheningan di ruang kerja pribadi Bramantyo Dirgantara malam itu terasa begitu menekan, seolah oksigen di ruangan berdinding kayu mahoni tersebut telah habis disedot oleh kecurigaan yang kian menebal. Di luar, rintik hujan mulai membasahi kaca jendela, menciptakan irama monoton yang menambah kesan suram pada suasana hati sang pemilik rumah. Bramantyo duduk mematung di balik meja kerja besarnya, menatap layar monitor komputer yang masih menyala, menampilkan antarmuka sistem keamanan terpusat rumahnya. Pikirannya terus berputar pada kejadian di klub malam tadi—wajah pucat Seraphina, perban yang kembali merembeskan darah, dan tatapan mata putrinya yang tampak begitu hancur, bukan hanya karena luka fisik, tetapi karena sesuatu yang lebih dalam dan gelap. Sebagai seorang pria yang membangun im

