Bau karbol yang menyengat di lorong rumah sakit perlahan memudar, berganti dengan aroma distorsi musik elektronik yang memekakkan telinga di sebuah klub malam eksklusif di jantung Jakarta. Hanya butuh tiga hari bagi Seraphina untuk memaksa tubuhnya bangkit dari ranjang pesakitan. Namun, jiwa yang bangun dari tidur panjang pasca-tindakan darurat itu bukan lagi Sera yang penuh binar pemujaan. Matanya kini sedingin es kutub, hampa, dan menyimpan api pemberontakan yang membara di balik kelopak matanya yang dipoles eyeliner hitam pekat. Di pergelangan tangan kirinya, lilitan perban putih masih melingkar kencang, menyembunyikan bekas luka yang menjadi monumen permanen atas pengkhianatan Alaric. Sera duduk di sofa velvet pojok VIP, menyesap gelas ketiga vodka martini-nya dengan tatapan yang lu

