Janji di Masa Lalu.

1097 Kata

​Langit di atas kampus tua itu berwarna jingga kemerahan, sebuah palet warna yang seolah dipinjam dari sisa-sisa api yang membakar semangat dua pemuda yang tengah duduk di emperan asrama sempit mereka. Udara sore itu membawa aroma tanah basah sehabis hujan rintik dan sisa asap knalpot kendaraan yang melintas di kejauhan, menciptakan atmosfer melankolis yang sering kali memicu percakapan mendalam tentang masa depan yang masih abstrak. Di sana, di atas bangku kayu yang sudah mulai lapuk dan berderit setiap kali mereka bergeser, Alaric Valerius muda duduk berdampingan dengan Bramantyo Dirgantara. Mereka baru saja menyelesaikan ujian akhir semester yang melelahkan, namun mata mereka tidak menunjukkan keletihan yang berarti. Sebaliknya, ada binar ambisi yang menyala-nyala, sebuah keyakinan naif

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN