Ia merasakan tangan Sera kembali merayap, kali ini ke lehernya, mencoba menarik wajahnya agar kembali menatap gadis itu. Sera mencoba mencium rahang Alaric yang mengeras, namun kali ini Alaric mematung. Ia tidak lagi merasakan gairah yang membara; yang tersisa hanyalah kekosongan dan rasa benci diri yang meluap-luap. Inkonsistensi kembali menghantamnya dengan kekuatan penuh. Ia menyadari bahwa setiap kebohongan yang ia buat untuk melindungi apartemen ini, untuk melindungi statusnya, sebenarnya sedang membangun neraka yang jauh lebih besar bagi masa depannya. "Dia memercayaiku, Sera ... Dia benar-benar memercayaiku," gumam Alaric dengan suara yang pecah. Ia menatap ruangan mewah itu—ruangan yang ia beli dengan uang hasil kerja keras yang juga melibatkan investasi Bramantyo—dan ia merasa s

