Skenario Penyelamat.

1198 Kata

​Kegelapan di ruang kerja Bramantyo seolah-olah memiliki massa yang padat, sebuah beban yang menindih bahu pria itu hingga ia merasa paru-parunya tidak lagi mampu mengembang sempurna. Di layar monitor yang masih membeku pada angka 03.14 pagi, siluet pria itu tetap berdiri di sana—statis, namun mematikan. Bramantyo menyandarkan punggungnya pada kursi kulit mahalnya, menatap langit-langit ruangan yang dihiasi ukiran klasik, mencoba mencari celah logika untuk menyangkal apa yang baru saja disaksikan matanya sendiri. Jantungnya berdegup dengan irama yang menyakitkan, sebuah simfoni ketakutan yang belum pernah ia rasakan, bahkan saat ia menghadapi kebangkrutan total di masa lalu. Logikanya yang tajam, yang biasanya mampu membedah masalah bisnis rumit dalam hitungan detik, kini berteriak keras b

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN