Harapan Palsu.

1200 Kata

​Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui jendela besar ruang kerja Bramantyo Dirgantara terasa jauh lebih hangat daripada hari-hari sebelumnya, seolah-olah alam semesta sedang berkonspirasi untuk memberikannya ketenangan yang semu. Bramantyo berdiri di depan jendela, menyesap kopi hitamnya yang pekat, menatap ke arah taman belakang yang terawat rapi. Di tangannya, sebuah tablet menampilkan berita bisnis terbaru, namun fokusnya bukan pada angka saham atau akuisisi perusahaan. Matanya tertuju pada sebuah foto paparazzi yang diambil tadi malam: Alaric tampak sedang membukakan pintu mobil untuk Bianca di depan sebuah restoran mewah. Keduanya terlihat begitu serasi, sebuah gambaran klasik tentang pasangan kelas atas yang sedang merajut kembali benang-benang asmara yang sempat terputus.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN