"Kamu hanya bocah nakal, Sera ... kamu dengar itu? Kamu hanyalah anak kecil yang mencari perhatian dengan cara yang paling menjijikkan," geramnya tepat di telinga gadis itu. Suaranya serak, nyaris menyerupai desis ular yang terluka. Sementara itu, tangannya yang besar dan kasar mencengkeram rambut pirang Sera dengan begitu erat, menarik kepalanya ke belakang hingga leher jenjangnya yang kini dipenuhi tanda ungu kemerahan itu terekspos jelas di bawah lampu temaram. Kontradiksi antara kata-katanya yang merendahkan dan gerakannya yang begitu memuja raga itu menciptakan pemandangan yang mengerikan sekaligus erotis; sebuah manifestasi dari pria yang sedang kehilangan pegangan pada realitas moralnya. "Aku membenci diriku karena melakukan ini ... ssshhh ... aku membenci setiap detik aku berada

