Suara detak jam dinding di ruang kerja Alaric Valerius kini terdengar seperti dentuman palu hakim yang menjatuhkan vonis di tengah kesunyian yang mencekam. Udara di ruangan itu terasa berat, kental dengan sisa-sisa adrenalin yang mulai mendingin, aroma keringat yang menguap dari pori-pori kulit yang memanas, dan bau khas dari pergulatan fisik yang baru saja mereda setelah berjam-jam lamanya. Cahaya fajar yang mulai merayap masuk melalui celah tirai otomatis memberikan sentuhan warna abu-abu kebiruan yang pucat pada ruangan itu, seolah-olah alam semesta sendiri enggan memberikan cahaya yang terlalu terang untuk menelanjangi kekacauan yang terjadi di atas karpet bulu domba seharga ribuan dolar tersebut. Alaric duduk bersandar pada kaki meja jatinya yang kokoh, napasnya masih tersengal, pe

