Keheningan di koridor eksekutif Valerius Group biasanya terasa seperti simbol kemapanan dan otoritas yang tak tergoyahkan, namun bagi Alaric Valerius, pagi ini keheningan itu terdengar seperti dengung ribuan lebah yang terjebak di dalam tengkoraknya. Setelah malam yang terkutuk oleh mimpi-mimpi yang mendistorsi waktu, ia melangkah masuk ke ruang kerjanya dengan sisa-sisa kewarasan yang menipis. Cahaya matahari yang memantul dari lantai marmer putih terasa terlalu silau, menusuk matanya yang merah karena kurang tidur dan efek sisa obat penenang. Ia duduk di kursi kebesarannya, namun kursi itu tidak lagi terasa seperti singgasana; itu terasa seperti kursi pengadilan di mana ia adalah hakim, jaksa, sekaligus terdakwa yang sudah divonis bersalah. Pintu jati besar itu terbuka perlahan setela

