Mimpi yang Terlalu Nyata.

1040 Kata

​Malam di Jakarta tidak pernah benar-benar sunyi, namun di dalam kamar tidur utama penthouse Alaric Valerius, kesunyian itu terasa seperti sebuah entitas yang bernapas, menekan setiap sudut ruangan dengan berat yang menyesakkan. Alaric terbaring di atas sprei sutra abu-abu gelapnya, tubuhnya yang lelah telah dipaksa menyerah oleh dosis sedatif yang lebih tinggi dari biasanya. Namun, alih-alih memberikan istirahat yang ia dambakan, obat itu justru membuka pintu gerbang menuju bagian terdalam dari alam bawah sadarnya—sebuah tempat di mana moralitas tidak memiliki kedaulatan dan di mana hasrat yang selama ini ia tekan muncul dalam bentuk yang paling murni sekaligus paling mengerikan. ​Dalam tidurnya, Alaric merasa dirinya seolah ditarik keluar dari realitas, jatuh ke dalam pusaran kabut vani

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN