Hening yang mematikan kembali menyelimuti kamar utama itu, sebuah kesunyian yang hanya dirobek oleh suara gemeretak gigi Seraphina yang masih terjebak dalam fase rigor yang mengerikan. Alaric Valerius, sang penguasa bisnis yang biasanya memiliki kendali mutlak atas setiap situasi, kini tampak seperti pria yang telah kehilangan segalanya. Tangannya yang besar menggenggam ponsel dengan sangat kuat, seolah-olah perangkat kecil itu adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra yang sedang menenggelamkannya. Sinyal di layar ponselnya naik turun secara tidak stabil, berkedip antara satu batang dan hilang sepenuhnya, mengikuti irama badai yang masih sesekali mengirimkan kilatan petir ke cakrawala Jakarta yang lumpuh. Tiba-tiba, ponsel itu bergetar. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang seja

