Ruang rapat utama di lantai paling atas Menara Valerius pagi itu terasa seperti sebuah akuarium raksasa yang kedap udara. Sinar matahari pukul sepuluh menembus dinding kaca setinggi langit-langit, menyinari meja mahoni panjang yang permukaannya berkilau seperti cermin hitam. Di sekeliling meja itu, sepuluh orang anggota dewan direksi duduk dengan postur tegap, mengenakan setelan jas yang harganya mampu membeli satu unit apartemen mewah. Suara gumam rendah tentang proyeksi keuntungan kuartal ketiga dan strategi akuisisi logistik di Asia Tenggara mengisi udara, namun bagi Alaric Valerius, semua suara itu terdengar seperti dengung lalat yang jauh dan tidak berarti. Alaric duduk di kursi kebesaran di ujung meja. Wajahnya adalah sebuah topeng pualam yang sempurna—dingin, kaku, dan tidak tert

