Cahaya temaram dari lampu meja kerja Alaric Valerius seolah menjadi satu-satunya sumber kehidupan di ruangan luas yang kini terasa seperti gua es yang mencekam. Di hadapannya, bukan lagi dokumen akuisisi pelabuhan atau laporan saham tahunan yang terhampar, melainkan sebuah map hitam tebal berisi rincian hidup seorang pemuda bernama Kaivan Mahendra. Alaric menyandarkan punggungnya pada kursi kulit mahalnya, namun tubuhnya tidak sedikit pun merasa rileks. Matanya yang merah akibat kurang tidur terus menatap tajam ke arah foto profil Kaivan yang tersemat di halaman depan laporan tersebut. Seorang pemuda tampan dengan rambut sedikit berantakan, senyum yang meremehkan dunia, dan tatapan mata yang memancarkan energi muda yang meledak-ledak. Alaric merasakan sebuah getaran aneh di ulu hatinya—

