Suara bising klakson yang bersahut-sahutan dan deru mesin ribuan kendaraan di jalanan protokol Jakarta sore itu terdengar seperti dengungan lebah yang sangat jauh, teredam oleh lapisan peredam suara tingkat tinggi yang menyelimuti kabin Rolls-Royce Phantom. Di dalam ruang terbatas itu, dunianya telah menyempit, memadat menjadi sebuah dimensi yang hanya dipenuhi oleh aroma maskulin kayu cendana yang tajam, wangi kulit jok premium yang baru saja dibersihkan, dan hawa panas yang memancar dari tubuh Alaric Valerius. Kaca pembatas hitam di depan mereka telah naik sepenuhnya, menciptakan sekat absolut yang seolah membagi dua realitas yang berbeda: realitas sopir yang sedang berjuang menembus kemacetan, dan realitas gelap di kursi belakang. Namun, bagi Seraphina, keberadaan Mulyono di balik kaca

