Lampu-lampu kristal di Grand Ballroom Hotel Mulia perlahan meredup dalam ingatan Seraphina, namun rasa perih dari ciuman Saskia di pipi Alaric tetap tertinggal, membekas seperti luka bakar yang enggan mengering. Malam perjamuan itu telah berakhir dengan kehancuran total martabat Sera, meninggalkan gadis itu dalam labirin keputusasaan yang sunyi di dalam kamar tidurnya yang luas di kediaman Dirgantara. Sementara itu, di lantai eksekutif Menara Valerius yang masih benderang meski waktu telah menunjukkan pukul dua dini hari, Alaric Valerius duduk di balik meja kerja marmernya dengan segelas wiski yang sudah kehilangan esnya. Pikirannya tidak sedang tertuju pada angka-angka pertumbuhan saham, melainkan pada bayangan wajah Sera yang hancur di toilet hotel beberapa jam lalu. Ia telah melakukan T

