Suasana di lounge eksklusif Hotel Mulia malam itu terasa seperti panggung teater yang dibangun di atas lapisan es yang tipis. Aroma alkohol mahal, campuran cerutu Kuba yang berat, dan parfum-parfum desainer papan atas memenuhi udara, menciptakan sebuah aroma kemapanan yang memabukkan sekaligus menyesakkan. Alaric Valerius berdiri di tengah pusaran manusia-manusia paling berpengaruh di Jakarta, memegang gelas kristal berisi wiski single malt tanpa es. Cairan amber itu berkilauan di bawah cahaya lampu gantung, namun pikiran Alaric jauh dari sekadar merayakan keberhasilan peresmian Valerius Sky Garden. Pikirannya terasa seperti benang kusut yang sedang dibakar dari kedua ujungnya, menyisakan abu kecemasan yang terus menghujani lubuk hatinya. Di lengannya, tangan dengan kuku merah menyala m

