Kegelapan di dalam kini terasa semakin pekat, tebal, dan seolah memiliki beratnya sendiri, namun di tengah kepekatan yang menekan itu, gairah yang membakar antara Alaric Valerius dan Seraphina Azkadina justru semakin terang benderang. Atmosfer di dalam kamar itu memancarkan aura primitif yang tidak lagi mengenal batas kewajaran manusia beradab, apalagi etika sosial yang selama ini mereka junjung tinggi. Alaric kini berada dalam tahap di mana nafsu bukan lagi sekadar dorongan biologis yang bisa diredam dengan logika bisnisnya yang tajam, melainkan sebuah haus yang menyakitkan—sebuah kebutuhan yang begitu mendalam hingga terasa seperti sesak napas yang mencekik di tengah kehampaan jiwanya yang telah lama membeku. Setiap sentuhan yang ia berikan pada kulit porselen Sera, setiap inci raga y

