Kegelapan yang pekat dan pejal di luar jendela kaca raksasa perlahan-lahan mulai memudar, bergeser menjadi gradasi warna ungu tua, indigo, dan semburat abu-abu dingin yang menandakan bahwa fajar sudah mulai mengintip dengan malu-malu dari ufuk timur Jakarta. Namun, di dalam kamar utama yang panas, lembap, dan berantakan itu, gairah yang membakar antara Alaric Valerius dan Seraphina Azkadina justru sedang mencapai titik didih yang baru, sebuah anomali fisika di mana kelelahan ekstrem justru menjadi bahan bakar bagi api yang lebih besar. Haus yang menyakitkan dari jam-jam sebelumnya tidaklah padam oleh pelepasan berkali-kali; ia justru bertransformasi menjadi rasa penasaran yang lebih berani dan eksperimental. Alaric, dengan sisa tenaga yang dipicu oleh adrenalin murni dan obsesi yang nyari

