Gemuruh mesin Rolls-Royce Phantom itu nyaris tidak terdengar, hanya berupa getaran halus yang menenangkan di bawah kaki, namun di tengah hiruk-pikuk lobi kampus yang dipadati mahasiswa sore itu, kehadirannya yang hitam legam dan mengkilap menciptakan aura intimidasi yang nyata. Mobil itu berdiri seperti sebuah monolit kekuasaan yang salah tempat di tengah keriuhan dunia pendidikan. Mahasiswa yang lewat secara naluriah memberikan jalan, melirik dengan rasa ingin tahu sekaligus segan pada kaca jendela yang gelap pekat, tidak menyadari badai kehancuran yang sedang bergejolak di dalamnya. Di balik kemewahan kabin yang kedap suara itu, Alaric Valerius duduk dengan punggung tegak, mencoba mempertahankan postur seorang pemimpin yang tak tergoyahkan. Namun, jemarinya yang mencengkeram sebuah ko

