Dalam remang cahaya kilat yang sesekali menyambar dari balik tirai jendela besar yang memisahkan mereka dari amukan badai Jakarta di luar sana, Alaric Valerius menatap wajah Seraphina dengan intensitas yang mengerikan, sebuah tatapan yang sanggup menembus lapisan jiwa yang paling dalam. Dunia di luar sana—segala aturan sosial, norma etika, dan janji persahabatan—seolah-olah telah runtuh dan lenyap, meninggalkan hanya mereka berdua dalam sebuah mikrokosmos yang dipenuhi oleh uap panas, aroma keintiman yang kental, dan ketegangan yang nyaris meledak. Wajah Sera tampak begitu cantik sekaligus sangat rapuh dalam penderitaan demamnya; pipinya memerah padam seolah-olah dipulas oleh bara api, bibirnya yang sedikit terbuka mengeluarkan napas-napas pendek yang panas dan lembap, dan matanya yang se

