Kesunyian di apartemen griya tawang milik Alaric Valerius malam itu terasa lebih mencekam daripada liang lahat. Cahaya rembulan yang masuk melalui jendela kaca raksasa setinggi langit-langit membiaskan bayangan abu-abu yang panjang di atas lantai marmer hitam, menciptakan siluet-siluet yang seolah menari mengejek kesendirian sang Titan. Alaric tidak menyalakan lampu. Ia duduk di sofa kulitnya yang luas, membiarkan kegelapan menelan tubuh tegapnya yang kini tampak sedikit membungkuk di bawah beban obsesi yang kian menggila. Di tangannya, sebuah gelas kristal berisi wiski sisa-sisa botol ketiga bergetar halus, bukan karena suhu ruangan yang dingin, melainkan karena syaraf-syaraf di ujung jemarinya sudah mulai kehilangan kendali atas perintah otaknya yang diracuni cemburu. Di atas meja kop

