Bab 5 - Naluri Atau Kekaguman?

1239 Kata
"Melihatmu tidur di sana membuatku merasa seperti penjahat." Sena perlahan bangun dan duduk di tepi sofa. Ia menoleh sedikit, menatap siluet Baskara yang masih berdiri kaku. "Tidak perlu, Mas. Aku di sini saja," jawab Sena lembut namun tegas. "Kalau aku pindah ke ranjang, aku takut besok Mas akan semakin membenciku karena merasa aku sudah mengusik ruang pribadimu. Aku tidak ingin menjadi beban lebih dari ini." Rahang Baskara mengeras. Penolakan Sena justru membuat harga dirinya merasa terusik. Ia tidak suka dibantah, apalagi oleh wanita yang baru saja membuatnya merasa kalah telak dalam argumen. "Jangan keras kepala," Baskara melangkah mendekat. "Aku bilang pindah, ya pindah. Aku yang akan tidur di sofa." "Mas, sofa ini keras. Besok Mas harus berkendara, Mas butuh istirahat yang cukup," ucap Sena mencoba memberi alasan logis. Matanya menatap Baskara dengan sorot memohon agar suaminya tidak memperpanjang masalah ini. Baskara mendengus kasar, ia tidak mempedulikan alasan itu. Tanpa peringatan, ia menyambar bantal dari atas ranjang dan melemparnya ke arah sofa, tepat di samping Sena. "Cukup, Sena! Aku tidak menerima penolakan," gertak Baskara. Matanya menatap tajam, membuat Sena seketika terbungkam. "Naik ke ranjang sekarang juga sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaran. Dan jangan berpikir aku melakukan ini karena aku peduli padamu. Aku hanya tidak ingin Ibu tahu kalau aku membiarkan kamu tidur di sofa." Sena terdiam membisu. Ia menyadari bahwa berdebat dengan Baskara saat ini hanya akan menyulut api kemarahan yang lebih besar. Dengan perlahan dan kepala tertunduk, Sena bangkit dari sofa, membawa selimutnya menuju ranjang besar yang terasa begitu asing baginya. Ia merebahkan tubuhnya di pinggir ranjang, menyisakan jarak yang sangat luas di tengah, seolah ada dinding transparan yang memisahkan mereka. Sementara itu, Baskara menghempaskan tubuhnya ke sofa yang sempit dengan kasar. Keheningan kembali menyergap. Baskara menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang berkecamuk. Ia bisa merasakan kehadiran Sena di ranjang itu, meski wanita itu tidak bersuara. Baskara membalikkan tubuhnya ke samping, mencoba mencari posisi nyaman di sofa yang terasa terlalu pendek untuk kaki jenjangnya. Namun, suara napas halus Sena dari arah ranjang justru membuatnya kian terjaga. Ia teringat betapa paniknya Sena menutup wajah tadi. Ada rasa gengsi yang besar, namun rasa penasaran dan sedikit rasa bersalah mulai menggerogoti ego Baskara. "Sena," panggil Baskara, suaranya terdengar ketus dan bergema di keheningan kamar. Sena yang baru saja memejamkan mata kembali tersentak. "I-iya, Mas?" "Kalau kamu merasa sesak tidur memakai kain itu, buka saja," ucap Baskara dengan nada angkuh, seolah memberikan izin yang tidak penting. "Lagipula, mau kamu buka atau tutup, aku tidak peduli. Jangan sampai besok pagi kamu pingsan hanya karena kekurangan oksigen dan malah merepotkanku." Baskara memejamkan mata rapat-rapat, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia bicara begitu hanya karena tidak mau disalahkan jika kesehatan Sena terganggu. Ia paham, ia paham betul bahwa dihadapan suaminya, seorang istri boleh terlihat seluruh tubuhnya. Secara syariat, seorang istri tidak memiliki kewajiban menutup aurat di depan suami, bahkan, berdandan dan menampakkan keindahan di hadapan suami adalah bagian dari ibadah. Namun, bagaimana ia bisa merasa tenang membuka cadar di depan pria yang dengan jelas mengatakan tidak sudi melihatnya? "Terima kasih, Mas," jawab Sena lirih. Suaranya terdengar sedikit bergetar. "Tapi aku tetap akan memakainya." Baskara membuka matanya kembali, alisnya bertaut. "Kenapa? Aku sudah bilang aku tidak peduli. Kamu tidak perlu merasa terancam." "Bukan karena aku merasa terancam, Mas," potong Sena pelan. "Tapi aku ingin menjaga mata Mas Baskara." "Maksudnya?" "Mas sudah punya bayangan wanita lain yang paling cantik di hati Mas. Kalau Mas bilang tidak sudi melihat wajahku, maka aku akan membantumu untuk tetap konsisten dengan ucapan itu. Aku tidak ingin wajahku menjadi pengganggu di pikiranmu." Baskara terdiam, kali ini benar-benar bungkam. Kalimat Sena adalah bentuk perlawanan paling halus namun paling menyakitkan yang pernah ia dengar. Sena tidak sedang menjaganya, Sena sedang menghukumnya dengan cara menuruti permintaannya secara mutlak. "Tidurlah, Mas. Maaf sudah membuat sofa itu terasa sempit," lanjut Sena sebelum akhirnya benar-benar mematung dalam diam. Baskara mendengus, mencoba membuang rasa sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya. Ia memukul bantal sofa dengan kasar. Niatnya ingin berbuat baik justru berakhir dengan dirinya yang merasa semakin terpojok. *** Malam kian larut. Baskara yang meringkuk di sofa keras itu tak bisa memejamkan mata. Punggungnya pegal, tapi pikirannya jauh lebih tersiksa. Ia terus menoleh ke arah ranjang, di mana Sena tampak sudah tidak bergerak. Setelah berjam-jam terjaga dalam ketegangan, pertahanan Sena akhirnya runtuh oleh rasa lelah yang luar biasa. Tubuhnya yang mungil itu akhirnya menyerah pada kantuk yang berat. Untuk pertama kalinya sejak mereka menginjakkan kaki di hotel ini, Sena tertidur sangat pulas. Keheningan malam hanya dipecah oleh suara AC yang menderu halus. Baskara bangkit, rasa haus membuatnya berjalan menuju meja kecil di samping ranjang untuk mengambil air mineral. Namun, langkahnya terhenti seketika. Gelas di tangannya hampir saja terlepas. Sena bergerak dalam tidurnya, mencari posisi nyaman. Karena gerakan itu, tali cadar yang hanya terikat seadanya di balik kepalanya melonggar dan akhirnya merosot jatuh ke atas bantal. Baskara mematung. Napasnya tertahan di tenggorokan. Di bawah temaram lampu tidur yang berwarna kuning keemasan, wajah itu terpampang nyata. Jika tadi ia hanya melihat sekilas dalam keadaan panik, kini Baskara bisa melihatnya dengan sangat jelas. Wajah itu tampak begitu tenang, namun menyisakan gurat kelelahan yang dalam. Bulu matanya yang lentik tampak basah, mungkin sisa air mata sebelum ia terlelap. Kulitnya yang halus tampak bercahaya, dan bibirnya yang mungil sedikit terbuka, mengeluarkan napas yang teratur. Baskara tidak bisa memungkiri lagi. Jantungnya berdebar sangat kencang, jauh lebih kencang daripada saat ia bersama Sarah. Ada kecantikan yang murni, yang tidak dibuat-buat, yang seolah memancarkan cahaya di tengah kegelapan kamar itu. "Jadi ... ini wajah yang Ibu bilang bisa meluluhkan hatiku?" bisik Baskara nyaris tak terdengar. Tangannya bergerak ragu, ingin menyentuh pipi yang tampak sangat lembut itu. Namun, akal sehatnya menariknya kembali. Ia teringat ucapannya sendiri bahwa ia tidak sudi melihat wajah Sena. Ia teringat janjinya pada Sarah. Tapi, semakin ia menatap, semakin ia merasa terjerat. Pesona yang selama ini disembunyikan di balik kain hitam itu kini benar-benar tampak jelas di depan matanya. Tiba-tiba, Sena melenguh kecil dalam tidurnya, seolah merasa ada seseorang yang mengawasinya. Baskara tersentak dan mundur selangkah dengan gugup. Tepat saat itu, ponsel Baskara di atas meja bergetar. Sebuah pesan masuk dari Sarah. Mas, aku tidak bisa tidur. Aku merindukanmu. Apa kamu sedang memikirkan aku juga di sana Baskara menatap layar ponsel yang masih berkedip itu dengan perasaan yang sulit diartikan. Kalimat-kalimat manis dari Sarah yang biasanya menjadi candu baginya, kini entah kenapa terasa seperti gangguan. Dengan gerakan kasar, Baskara menekan tombol daya dan mematikan ponselnya sepenuhnya. Ia berbalik dengan langkah terburu-buru, kembali ke sofa seolah-olah baru saja tertangkap basah melakukan kejahatan. Baskara menghempaskan tubuhnya ke sofa, lalu menyentuh dadanya. Di sana, di balik tulang rusuknya, jantungnya berdegup dengan ritme yang menggila. Dentumannya terasa hingga ke telinga. "Sial," umpatnya lirih, napasnya sedikit memburu. Kenapa jantungku berdegup sekencang ini? pikirnya gusar. Apa ini karena pesan dari Sarah? Apa karena aku merindukannya? Baskara mencoba mencari pembenaran. Ya, biasanya memang begitu. Setiap kali Sarah merayunya, jantungnya selalu bereaksi. Namun, nuraninya membantah. Rasa berdebar ini berbeda. Ini bukan debar kerinduan yang biasa ia rasakan pada Sarah. Ini adalah debar yang menyesakkan, debar yang muncul karena rasa bersalah, rasa takjub, dan rasa ingin tahu yang besar yang muncul saat menatap wajah tenang Sena tadi. Baskara menoleh lagi ke arah ranjang dalam kegelapan. Bayangan kulit jernih dan bibir merah alami Sena seolah tercetak di pelupuk matanya. Ia kembali memegang jantungnya yang masih belum mau berkompromi. "Tidak mungkin," bisiknya pada kegelapan malam. "Aku hanya terkejut. Ya, aku hanya terkejut melihat wajah aslinya. Tidak lebih."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN