Sena terbangun dengan jantung yang tiba-tiba mencelos. Hal pertama yang ia rasakan bukanlah kesegaran, melainkan rasa dingin di wajahnya.
Tangannya langsung meraba pipi. Kosong?
Sena tersentak duduk, matanya membelalak mencari kain hitam itu. Ia menemukannya tergeletak di atas bantal, tepat di samping kepalanya.
"Astaghfirullah!" Sena memekik pelan dalam kepanikan yang luar biasa.
Wajahnya memanas, rasa takut menyergapnya seketika. Ia segera menoleh ke arah sofa, berharap suaminya masih tertidur pulas.
Namun, sofa itu kosong. Selimut dan bantal yang digunakan Baskara tertata sedikit berantakan, menandakan pria itu sudah bangun.
Suara gemericik air dari kamar mandi menyadarkan Sena. Baskara ada di dalam.
"Ya Allah ... apa Mas Baskara melihatku?" bisiknya dengan tangan gemetar.
Pikiran Sena berkecamuk. Ia segera meraih cadarnya, memakainya dengan gerakan secepat kilat meski tangannya masih dingin karena syok.
Ia merasa sangat berdosa dan malu jika sampai pria yang sangat membencinya itu melihat wajahnya dalam keadaan tidak siap.
Sena segera bangkit untuk mengambil wudu di wastafel kecil luar atau menyiapkan diri untuk salat Subuh di sudut kamar.
Tepat saat ia selesai merapikan mukenanya untuk bersiap salat, pintu kamar mandi terbuka.
Baskara keluar dengan rambut yang basah dan handuk kecil di tangannya.
Langkahnya terhenti saat melihat Sena yang sudah berdiri tegak dengan pakaian tertutup sempurna. Baskara sempat terdiam sejenak, bayangan wajah tenang yang ia tatap semalaman kembali menghantam ingatannya.
Debaran di jantungnya kembali menguat.
Namun, egonya yang setinggi langit segera mengambil alih. Ia tidak mau Sena tahu bahwa ia telah terpesona. Ia tidak mau Sena merasa menang.
Baskara berjalan melewati Sena menuju lemari, lalu berkata dengan nada yang sangat ketus dan angkuh, tanpa menoleh sedikit pun.
"Lain kali, perhatikan tiduranmu. Jangan sampai kejadian semalam terulang lagi," ucap Baskara dingin.
"Sena, aku tegaskan sekali lagi... jangan pernah buka cadarmu di depanku. Aku tidak sudi dan aku sama sekali tidak mau melihatmu tanpa kain itu."
Kalimat itu seperti sembilu yang menyayat tepat di jantung Sena.
Sena terdiam membisu di balik mukenanya. Tangannya yang terlipat di depan d**a meremas kain mukena itu dengan kuat.
Hatinya terasa sangat perih, seolah-olah baru saja dihantam kenyataan yang paling pahit.
Apa sebegitu tidak menariknya aku di matamu, Mas? batin Sena meratap.
Apakah wajahku sebegitu buruknya hingga melihatnya saja membuatmu merasa jijik?
Sena ingin bersuara, ingin bertanya apa salah fisiknya sampai suaminya sendiri tidak sudi memandangnya.
Namun, tenggorokannya terasa tersumbat oleh gumpalan rasa sedih. Ia tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa menunduk dalam, menyembunyikan luka yang kian menganga di balik cadar dan mukenanya.
Ia tidak tahu bahwa di balik sikap angkuhnya, Baskara justru sedang berusaha keras menstabilkan napasnya karena teringat betapa cantiknya wajah yang baru saja ia larang untuk ia lihat lagi.
"I-iya, Mas. Maafkan aku," jawab Sena akhirnya, suaranya sangat lirih, hampir hilang ditelan sunyinya pagi itu.
Sena pun mulai takbiratul ihram untuk salat Subuh, membawa seluruh rasa terhinanya ke hadapan Sang Pencipta, sementara Baskara hanya bisa berdiri kaku menatap punggung istrinya dengan perasaan yang semakin tidak keruan.
Baskara juga tak mengerti, kenapa dia sangat membenci Sena, apa benar karna Sena dirinya tak bisa bersama Sarah. Lalu, kenapa dia harus sekasar tadi berkata tak sudi melihat wajah Sena.
Apa yang Sena pikirkan saat dia mengatakan hal itu. Apa Sena terluka?
Baskara menggeram, dia merasa kepalanya berdenyut hanya memikirkan Sena, dan perasaannya.
Sekarang, apa dia mulai peduli pada perasaan Sena, itu jelas mustahil.
**
Pagi itu, suasana kamar yang seharusnya tenang setelah subuh mendadak pecah oleh ketukan pintu yang bertubi-tubi dan terdengar sangat tidak sabar.
Baskara yang baru saja selesai berpakaian segera melangkah menuju pintu.
Ia sempat melirik Sena yang masih duduk di atas sajadah, merapikan mukenanya.
Ada perasaan was-was yang tiba-tiba menyelimuti Baskara, seolah ia tahu siapa yang ada di balik pintu itu.
"Siapa yang bertamu sepagi ini, tidak mungkin itu cleaning service, kan," ucapnya.
Sena memperhatikan suaminya. Ia melihat punggung Baskara yang kaku saat tangan pria itu memegang gagang pintu.
Baskara tidak langsung membukanya, ia terdiam cukup lama, seolah sedang menyiapkan hati atau mungkin sedang berperang dengan logikanya sendiri.
"Siapa, Mas?" tanya Sena lirih.
Baskara tidak menjawab. Ia akhirnya memutar kunci dan membuka pintu sedikit.
Namun, belum sempat Baskara bicara, pintu itu didorong paksa dari luar.
"Mas! Kenapa ponselmu mati? Kamu tahu betapa hancurnya aku semalaman?"
Suara itu melengking tinggi, penuh tuntutan dan tangis.
Seorang wanita cantik dengan pakaian modis langsung menerjang masuk dan menghambur ke pelukan Baskara.
Ia memeluk pinggang Baskara dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di d**a pria itu sambil terisak hebat.
Sena membeku di tempatnya.
Ia berdiri perlahan, matanya menatap pemandangan di depannya dengan rasa sakit yang tak terlukiskan. Ia mengenali wanita itu. Wajah yang sama dengan foto yang ia lihat semalam.
Dunia Sena seolah berhenti berputar. Di pagi yang masih suci, di dalam kamar hotel yang seharusnya menjadi saksi awal ibadah pernikahan mereka, ia justru harus menyaksikan suaminya dipeluk erat oleh wanita lain di depan matanya sendiri.
Baskara tampak sangat kaget, tubuhnya kaku seperti batu. Ia tidak membalas pelukan itu, namun ia juga tidak langsung mendorong Sarah menjauh.
Matanya justru bergerak gelisah, menatap Sena yang berdiri diam dengan mukena yang masih membalut tubuhnya.
"Sarah ... kamu nekat sekali ke sini?" bisik Baskara parau, suaranya terdengar antara marah dan cemas.
"Aku nggak peduli! Kamu milikku, Mas! Hatimu milikku, bukan milik wanita itu!" teriak Sarah tanpa malu, semakin mempererat pelukannya seolah ingin menegaskan kepemilikannya di depan Sena.
Sena merasakan dadanya sesak, oksigen di sekitarnya seolah menipis. Ia melihat tangan Baskara perlahan terangkat, entah untuk mendorong Sarah atau justru untuk membelainya.
Sena memalingkan wajahnya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh juga, membasahi kain mukenanya.
Inilah puncak penghinaan yang harus ia terima sebagai istri yang tak dianggap, melihat wanita lain mengklaim suaminya tepat di depan wajahnya sendiri.
Baskara dengan kasar menarik lengan Sarah, menyeret wanita itu keluar dari kamar dan membanting pintu di depan wajah Sena. Ia tidak ingin Sena mendengar lebih banyak.
Di dalam kamar, Sena ambruk di atas sajadahnya. Ia mendekap dadanya yang terasa sangat sesak, mencoba menarik napas di balik cadarnya yang terasa kian berat karena basah oleh air mata.
Bayangan suaminya didekap wanita lain di depan matanya sendiri adalah luka yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Aku nggak nyangka, akan sesakit ini, Ya Allah, apa aku harus tetap bertahan meskipun begini?" ucapnya gemetar.
Sementara itu, di lorong hotel yang sepi, Baskara menatap Sarah dengan sorot mata tajam yang belum pernah wanita itu lihat sebelumnya.
"Kamu gila, Sarah? Kenapa kamu nekat datang ke sini?!" desis Baskara, suaranya rendah namun penuh penekanan amarah.
"Aku merindukanmu, Mas! Kamu mematikan ponselmu, kamu mengabaikanku!" Sarah mencoba bergelayut manja di lengan Baskara, jemarinya mencoba merapikan kerah baju pria itu.
Baskara dengan cepat menepis tangan Sarah. "Pergi sekarang juga. Aku tidak suka kamu berbuat nekat seperti ini. Ini fatal, Sarah! Jangan pernah ulangi lagi kesalahan ini atau aku benar-benar tidak akan memaafkanmu!"
Sarah tersentak. Ia mendengus tidak percaya, menatap Baskara dengan tatapan sinis.
"Dammit, Baskara! What's wrong with you?!" umpat Sarah.
"You're being so rude to me! Kenapa kamu kasar begini padaku?"
Baskara terdiam, napasnya memburu. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia merasa begitu marah.
Apakah karena Sarah mengganggu ketenangannya, atau karena ia merasa tidak rela jika harga diri Sena diinjak-injak dengan cara seperti ini?
Atau dia hanya takut Sena mengadu pada ibunya dan semuanya semakin runyam.
Sarah tertawa hambar, matanya menyipit penuh selidik. "Oh, aku tahu ... Apa karena wanita aneh di dalam sana? Apa kamu mulai menyukai istri kampungantmu itu, hah?! Apa kamu sudah tergoda oleh wajah yang dia sembunyikan itu?!"
"Jaga bicaramu, Sarah!" bentak Baskara.
"Kenapa? Kamu membela dia sekarang? Kamu lupa siapa yang menemanimu selama lima tahun ini?! Dia itu cuma wanita pilihan ibumu, Mas! Dia tidak selevel dengan kita!"
Baskara mengepalkan tangannya kuat-kuat. Kalimat Sarah yang menghina Sena sebagai istri kampungan entah kenapa membuat telinga Baskara panas.
Bayangan wajah cantik nan suci milik Sena saat tertidur tadi malam kembali melintas di benaknya, membuat kata-kata Sarah terdengar seperti sampah.
"Pergi, Sarah. Sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaran dan menyuruh sekuriti menyeretmu keluar dari gedung ini," ucap Baskara dingin, lalu ia berbalik meninggalkan Sarah yang masih berteriak histeris di lorong hotel.