Pagi itu, Amelia bangun dengan kepala pusing dan tubuh yang terasa remuk. Perjalanan pulang semalam bersama Vina terus berputar di pikirannya, mengoyak-ngoyak ketenangannya. Ia tahu Vina semakin curiga, dan ia harus lebih berhati-hati. Semakin dalam ia masuk ke dalam jebakan Ardi, semakin rumit pula jaring kebohongan yang ia ciptakan, seolah ia sedang terperangkap dalam labirin yang tidak ada jalan keluarnya. Rasa dingin menjalar di punggungnya saat ia mengingat tatapan Vina yang penuh tanda tanya. Ia tahu ia sedang bermain api, dan cepat atau lambat, api itu akan melalap segalanya. Di dapur, saat sedang membuat sarapan, ponsel Amelia bergetar. Sebuah getaran yang terasa seperti lonceng kematian. Pesan dari Ardi. "Datang ke kantorku sekarang. Sendirian." Ardi tahu Vina mengantarnya pu

