Amelia berdiri terpaku di parkiran yang sepi, diterangi remang-remang lampu jalan. Kakinya terasa lemas, hampir tak mampu menopang tubuhnya. Ia menatap mobil Ardi yang melaju menjauh, hingga lampu belakangnya yang merah dan seolah mengejek, menghilang di tikungan. Ia ditinggalkan begitu saja, seperti barang bekas yang sudah tidak dibutuhkan lagi, dibuang setelah digunakan. Ia mengamati bayangannya yang panjang dan kurus di bawah cahaya lampu, bayangan yang kini terasa asing, seolah bukan miliknya lagi. Sebuah bayangan yang tidak mencerminkan dirinya yang sesungguhnya, melainkan bayangan dari sesuatu yang sudah hancur. Rasa jijik dan hampa membanjiri dirinya, meluap hingga hampir menenggelamkannya. Ia membenci setiap inci tubuhnya, setiap respons yang ia berikan pada sentuhan Ardi. Ia me

