Dua minggu telah berlalu sejak kepulangan Amelia dari Bali, namun waktu rupanya tidak cukup kuat untuk membasuh noda yang tertinggal di relung jiwanya. Hari-hari terus bergerak seperti biasa. Matahari tetap terbit dari ufuk timur, dan kehidupan rumah tangga itu dari luar tampak utuh, hangat, bahkan nyaris sempurna. Namun di dalam diri Amelia, ada sesuatu yang perlahan-lahan retak. Ia menjalani perannya sebagai istri dengan ketelitian yang nyaris menyakitkan. Ia menyiapkan pakaian Bima, menata meja makan, menyapu sudut-sudut rumah, menjawab pertanyaan dengan senyum lembut, dan menjaga nada suaranya tetap tenang. Semua tampak wajar, Semua tampak baik-baik saja. Tetapi jauh di balik wajah teduh itu, Amelia merasa seperti bangunan tua yang keropos dari dalam masih berdiri, tetapi tinggal

