Bab 69: Benih di Tengah Badai

1124 Kata

Gedung perkantoran bertingkat itu berdiri kokoh dan angkuh, mencakar langit Jakarta yang mulai menyengat dengan hawa panas yang lembap. Meski jam baru menunjukkan pukul 07:50 pagi, aspal jalanan sudah mengeluarkan aroma pengap yang khas, perpaduan antara debu, polusi, dan sisa hujan semalam yang menguap. Amelia turun dari taksi dengan gerakan yang kaku. Kakinya terasa seperti terbuat dari timah, berat dan sulit diseret. Kepalanya terasa ringan, sebuah sensasi lightheaded yang membuatnya merasa dunia di sekitarnya sedikit berputar. Setiap kali ia mencoba menarik napas dalam untuk menenangkan debar jantungnya, aroma tajam dari knalpot kendaraan seolah memicu kembali gejolak hebat di ulu hatinya yang belum juga reda. Ia berhenti sejenak di depan pintu kaca lobi yang megah, memandangi ba

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN