Waktu menunjukan pukul 20:00, Keheningan di lantai kantor yang biasanya sibuk dengan denting papan tik dan deru mesin fotokopi, kini menjelma menjadi sunyi yang menekan. Beberapa menit yang lalu, gema langkah kaki staf terakhir yang lembur terdengar menjauh, kian samar hingga akhirnya disusul suara denting pintu lift yang tertutup rapat. Ardi duduk dengan posisi yang sangat santai di kursi kulitnya yang megah, kursi yang melambangkan takhta kekuasaannya di gedung ini. Ia menyesap anggur merah dari gelas kristal dengan gerakan yang sangat tenang, elegan, namun mematikan. Matanya yang tajam menatap Amelia dari balik tepian gelas, seolah-olah ia sedang menikmati babak final dari sebuah pertunjukan teater yang ia sutradarai sendiri dengan presisi yang sempurna. "Kenapa kau terlihat be

