Waktu menunjukkan tepat pukul Empat sore, saat matahari mulai condong ke ufuk barat, mewarnai langit Jakarta dengan semburat oranye yang lembut. Di luar dinding kedap suara ruang kerja eksekutif itu, hiruk-pikuk lantai kantor mulai berubah menjadi simfoni kebebasan. Terdengar sayup-sayup suara tawa ringan yang penuh kelegaan, derit kursi yang digeser dengan semangat, dan obrolan antusias para karyawan yang bersiap pulang menuju kehidupan normal mereka. Bagi mereka, pukul Empat adalah akhir dari rutinitas harian yang melelahkan. Amelia melirik jam di sudut layar komputernya dengan mata yang perih dan merah karena kelelahan, baik fisik maupun emosional. Pandangannya kabur sejenak, seolah layar itu sendiri ikut berkonspirasi untuk memperpanjang penderitaannya. Ia berharap bisa sege

