Bab 56: Setia dalam Pengkhianatan

1392 Kata

Hari keberangkatan itu akhirnya tiba. Hari di mana Amelia harus melangkahkan kaki keluar dari istana sucinya menuju kandang predator yang sudah menunggu dengan taring terhunus. Matahari pagi yang biasanya membawa harapan, kali ini terasa seperti lampu sorot di ruang eksekusi, menelanjangi setiap jengkal ketakutan yang ia sembunyikan di balik riasan wajahnya yang tipis namun dipaksakan sempurna. Amelia bangkit dengan gerakan sepelan mungkin, seolah-olah setiap derit lantai adalah teriakan dari nuraninya yang memberontak. Kamar itu masih terasa hangat oleh sisa napas Bima, sebuah kehangatan yang bagi Amelia kini terasa sangat menyakitkan karena ia tahu sebentar lagi ia akan menukarnya dengan dinginnya kulit seorang Ardi. Ia menatap koper hitam yang sudah terisi rapi di sudut ruangan.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN