Bandara Soekarno-Hatta pagi itu terasa begitu sesak bagi Amelia, seolah-olah oksigen di Terminal 3 telah tersedot habis oleh beban dosa yang ia bawa di pundaknya. Ia berdiri di tengah keriuhan terminal keberangkatan, menggenggam erat koper kecilnya hingga buku-buku jarinya memutih, seolah benda mati itu adalah satu-satunya pegangan hidup yang tersisa dari dunianya yang sedang runtuh. Di sekelilingnya, orang-orang tampak bahagia dengan rencana liburan atau kepulangan mereka, kontras yang sangat menyakitkan dengan Amelia yang merasa sedang melangkah menuju tiang gantungan yang berkedok perjalanan dinas. Di depan gerbang keberangkatan, Ardi sudah berdiri dengan postur yang begitu dominan, mengenakan setelan jas mahal yang tampak sangat rapi tanpa kerutan sedikit pun. Kacamata hitam menutu

