Bab 51: Kenikmatan yang Menyayat Jiwa

1491 Kata

Irama di dalam kamar itu semakin intens, menciptakan simfoni yang ganjil antara suara derit ranjang dan napas Bima yang semakin pendek, tersengal-sengal dalam euforia kesembuhan yang semu. Di bawah temaram lampu nakas, keringat mulai membasahi tubuh Bima yang kurus, membuatnya tampak mengkilap seperti porselen retak yang dipaksakan untuk kembali utuh. "Aahhh... Sa-sayang... Memekmu enak banget," erang Bima. Suaranya serak, sarat dengan kejutan emosional karena ia tidak menyangka tubuhnya masih mampu merasakan sensasi sedahsyat ini setelah berbulan-bulan hanya berakrab-akrab dengan obat-obatan. PLOOKKK PLOOKKK PLOOKKK Bima menyodok Amelia dengan ritme yang konsisten dan penuh tenaga. Setiap dorongan yang ia berikan seolah-olah adalah cara Bima untuk mengklaim kembali takhta yang sempa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN