Suasana mendadak hening, sebuah keheningan yang mencekam dan berbau karat, seolah udara di ruangan itu telah mati bersama harga diri yang baru saja diinjak-injak. Ardi bangkit dari lantai dengan gerakan santai, otot-otot tubuhnya masih menegang namun wajahnya memancarkan kepuasan yang bengis. Ia berdiri dengan keanggunan seorang pemenang, seolah baru saja menyelesaikan sebuah ritual kemenangan yang membanggakan, sebuah perayaan atas penaklukan yang brutal. "Permainan yang sangat memuaskan, Amelia," ucap Ardi, Suaranya rendah, serak, disertai seringai lebar yang menghina, sebuah ekspresi yang merobek sisa-sisa kewarasan Amelia. Tanpa sedikit pun rasa bersalah, penyesalan, apalagi empati, Ardi melangkah menuju kamar Amelia dengan keangkuhan yang nyata. Ia berjalan melewati tubuh yang ha
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


